Rock on the Street Vol. 2: Cara Unik Komunitas Grup Musikal Tarakan Jaga Kreativitas Lewat Olahraga

TARAKAN, KABAR KALTARA – Identitas musisi yang identik dengan gaya hidup nokturnal dan dunia malam perlahan mulai digeser oleh sebuah gerakan segar di Kota Tarakan. Kolektif pegiat seni yang tergabung dalam Kelompok Grup Musikal baru saja sukses menggelar “Rock on the Street Vol. 2”, sebuah aksi jalan santai yang menggabungkan semangat olahraga dengan kebanggaan subkultur musik.

Pemandangan tak biasa terlihat di sepanjang rute 4 kilometer aspal Tarakan. Puluhan pemuda hingga tokoh senior industri kreatif tumpah ruah mengenakan atribut unik: Kaus Band. Mulai dari band lokal hingga legenda musik dunia, identitas visual ini menjadi syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam barisan.

Ketua Dewan Pembina Grup Musikal, Adi Nata Kusuma, menyebutkan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran akan pentingnya menyeimbangkan proses kreatif dengan kebugaran fisik.

“Harapan kami, seluruh musisi di Kalimantan Utara bisa tetap sehat dan semangat. Kreativitas dan kesehatan harus berjalan seimbang. Kami mengagendakan ini secara rutin dua kali sebulan agar teman-teman muda tidak hanya fokus berkarya, tetapi juga tetap menjaga kondisi fisik,” tegas Adi.

Inisiator kegiatan, Ayi, membeberkan alasan filosofis di balik gerakan ini. Ia tak menampik bahwa selama ini ada stigma kuat yang melekat pada anak musik.

“Anak-anak musik sering kali identik dengan dunia malam. Itulah alasan utama kami menginisiasi kegiatan ini; kita harus sehat. Ini adalah upaya sadar untuk mengubah pola hidup menjadi lebih baik tanpa meninggalkan identitas kita sebagai musisi,” ungkapnya.

Daya tarik utama “Rock on the Street” memang terletak pada dress code-nya. Jika biasanya jalan santai menggunakan jersey olahraga, di sini peserta wajib pamer koleksi kaus band mereka.

Ketua Dewan Pengarah Grup Musikal, Boy Ramdani, memberikan penegasan yang cukup unik terkait aturan berpakaian ini. Menurutnya, hal ini adalah bentuk diferensiasi sekaligus cara mereka menghargai hobi dan profesi.

“Sebagai pecinta musik, konsepnya harus jelas. Bahkan bagi teman-teman yang ingin bergabung, menggunakan baju band hukumnya ‘fardu ain’ atau wajib. Silakan sediakan baju band Anda dan mari kita sehat bersama-sama,” seloroh Boy.

Kegiatan yang rencananya akan rutin digelar dua kali dalam sebulan ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan inklusif. Lebih dari sekadar olahraga, “Rock on the Street” adalah simbol bahwa ekosistem seni di wilayah perbatasan tidak hanya produktif dalam berkarya, tapi juga tangguh secara fisik dan solid secara komunitas.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *