TARAKAN, Kabar Kaltara – Tantangan ekonomi digital di Kalimantan Utara (Kaltara) mendapat perhatian serius dari tokoh muda sekaligus politisi lokal, Adi Nata Kusuma. Ia menekankan bahwa mendorong produk lokal untuk “Go Digital” tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan singkat, melainkan harus melalui proses pembinaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Menurut Adi, potensi produk unggulan Kaltara sangat besar, mulai dari sektor perikanan, pertanian, hingga kerajinan tangan. Namun, tanpa ekosistem digital yang mumpuni, produk-produk ini akan sulit bersaing di pasar nasional maupun internasional.
“Kita tidak ingin UMKM kita hanya sekadar punya akun media sosial atau marketplace, lalu setelah itu bingung bagaimana manajemen stok dan pengirimannya. Pembinaan harus terintegrasi dari hulu ke hilir,” ujar Adi Nata Kusuma.
Strategi Integrasi UMKM Kaltara
Untuk mewujudkan hal tersebut, Adi mengusulkan beberapa poin penting yang harus dijalankan secara simultan oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan:
- Standardisasi Kualitas: Memastikan produk lokal memiliki izin edar, sertifikasi halal, dan kemasan yang menarik sebelum dipasarkan secara luas.
- Literasi Finansial & Digital: Memberikan pendampingan berkelanjutan mengenai manajemen keuangan digital dan strategi pemasaran online.
- Akses Logistik yang Efisien: Mengingat tantangan geografis Kaltara, integrasi dengan penyedia jasa logistik sangat krusial untuk menekan biaya kirim.
- Pusat Data UMKM: Membangun database yang terintegrasi agar intervensi bantuan atau pelatihan dari pemerintah tepat sasaran.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi pelaku usaha di Kaltara. Adi meyakini bahwa dengan pembinaan yang terukur, produk lokal Kaltara tidak hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi mampu menjadi pemain utama dalam ekonomi digital Indonesia tahun 2026.
